RSS

Arsip Tag: asik

Cerpen Horor #6: Seorang Pria yang Membunuh Pacarnya

 

Entahlah apa yang ada di dalam benakku saat ini. Kosong. Semua sudah terjadi. Semua ini salahku. Oh, tidak tidak tidak. Semua salahnya. Andai kau tahu, kau juga pasti akan menyalahkannya. Tentu juga akan melakukan hal yang sama kepadanya, seperti yang telah kulakukan kepadanya barusan.

Aku terduduk sambil melihat tubuh kaku wanita itu. Wanita yang terkapar itu. Wanita yang istriku itu. Wanita yang tubuhnya bersimbah darah itu. Wanita yang telah membuatku

Kilasan-kilasan kejadian beberapa menit sebelum sekarang kembali teringang dalam benakku. Samar-samar. Rasanya beberapa menit tadi menjelma waktu ratusan abad. Sekeping demi sekeping aku mengingatnya, mengkronologiskannya hingga tercipta satu cerita utuh.

“Kau tak bisa lakukan ini padaku Teti,” kataku pada istriku saat ia baru membuka pintu rumah.

Teti melirikku tapi diam saja mendengar celotehku. Kemudian, ia pergi ke dalam kamar kami. Aku membuntutinya dan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan.

“Lelaki tadi siapa?”

Namun, lagi-lagi Teti hanya diam saja sambil meletakkan plastik-plastik belanjaannya di kasur. Ia membuka blues dan jeans yang dikenakannya hingga tersisa bra dan celana dalam warna merah menyala saja.

“LELAKI YANG MENGANTARKANMU ITU SIAPA?!” tanyaku lagi.

Teti tetap meneruskan kegiatannya tanpa mempedulikan teriakanku. Ia membuka lemari mengambil kaos dan celana pendek untuk dikenakannya. Tak dipedulikan seperti itu membuatku naik darah. Aku menghampirinya kemudian mencengkeram kedua lengannya, memaksanya berbalik.

“JIKA KUTANYA MAKA JAWABLAH!” perintahku padanya.

Teti malah tertawa.

“Kenapa kau tertawa, hah?”

“Kenapa aku harus menjawab kau? Apa yang membuat kau merasa istimewa menyuruh-nyuruhku untuk menjawab pertanyaanmu?”

“Perempuan laknat!” Aku ingin menamparnya tapi urung kulakukan.

“Ayo lakukan bang! Lakukanlah jika kau merasa itu yang paling benar untuk dilakukan. Karena selama ini abang kan tidak pernah melakukan hal yang benar?”

Darahku mendidih mendengar makiannya. Aku ke belakang mengambil pisau. Kuhunus dengan cepat ke perut Teti. Tak hanya sekali, tepat di dada kiri kuhujamkan pisau itu beberapa kali.

Tak perlu menunggu waktu lama. Teti roboh. Aku pun senang. Setan girang.

Entahlah apa yang ada di dalam benakku saat ini. Kosong. Semua sudah terjadi. Semua ini salahku. Oh, tidak tidak tidak. Semua salahnya. Andai kau tahu, kau juga pasti akan menyalahkannya. Tentu juga akan melakukan hal yang sama kepadanya, seperti yang telah kulakukan kepadanya barusan. Dan kau sudah tahu bukan apa kesalahan wanita itu?

Sudah cukup aku cerita. Kau mungkin sudah tak ingin mendengarkan cerita dariku lagi bukan? Cerita seorang pengangguran yang membunuh istrinya gara-gara berselingkuh dengan lelaki lain? Dan bagaimana aku mmenguburkannya?

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 September 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , ,

Cerpen Sedih : Penaluna

Cerpen Sedih : Penaluna
Penaluna
 
Oleh : Annisa Widyawati
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama ngga tahu tentang aku. Mama cuma mengenal dan menilai aku berdasarkan apa yang dia lihat. Dia ngga tau apa-apa tentang aku.
“Kamu itu rasioal sedikit lah, Luna. Mau jadi apa kamu dengan mimpi-mimpi kamu itu? Papa dan Mama pingin kamu jadi dokter. Titik. Mimpi itu ya mimpi, ngga akan untuk jadi nyata. Ngerti kamu?” Kata Mama tanpa memandangku.
“Terserah deh, Ma. Mama ngga tahu apa-apa.” Balasku sambil berjalan pergi meninggalkan Mama. Perasaanku campur aduk. Banyak hal yang membuatku down saat ini. Di sekolah, di rumah, semua orang. Kepalaku terasa sangat berat. Aku masih ngga percaya Emma yang lolos audisi Teen Movie Maker. Emma si cewe centil dari SMA 23 yang aku temui di tempat audisi. Sepertinya dia sama sekali ngga punya kemampuan untuk jadi sutradara. Mungkin dia hanya bisa memegang alat make-up. Aku yang selama ini berjuang untuk lolos audisi itu. Aku yang setiap hari terus berlatih. Aku yang setiap saat bermimpi untuk jadi sutradara. Aku yang selama ini kerja keras belajar segala hal. Aku selama ini yang berjuang. Bukan dia, bukan Emma. Dia ngga tahu apa-apa tentang bagaimana membuat film. Dia ngga tahu apa-apa. Aku yang tahu. Aku yang selama ini mimpi untuk lolos audisi itu. Aku!
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kamar adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa sendiri. Aku ingin menghilangkan semua kekecewaan dan rasa bersalah pada diriku sendiri. Apa salah aku ngga mau jadi dokter? Apa salah aku punya impian sendiri? Apa salah aku ingin meraih semua hal yang selama ini aku inginkan? Semua orang meremehkanku, bahkan orang tua dan sahabatku. Semua orang, tapi ngga dengan Jeff. Dia laki-laki yang selama ini mendampingiku. Dia ngga pernah meremehkanku. Dia selalu disampingku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.. Jeff Menelpon.
“Halo Jeff.” Sapaku ramah.
“Kamu lagi dimana, sayang? Aku cari kamu di sekolah, ternyata kamu udah pulang.” Mendengar suaranya membuatku merasa lebih baik.
“Aku di rumah.”
“Kenapa suara kamu lemes gitu? Kamu lagi nangis ya? Ada apa?”
“Eh engga kok, sayang. Aku ngga nangis. Cuman lagi kecewa aja.”
“Karena audisi Teen Movie Maker itu?”
“Iya..”
“Aku ke rumah kamu sekarang ya. Aku pingin bikin kamu senyum lagi.”
“Ada Mama di rumah, Jeff.”
“Mama kamu ngga akan apa-apa kalau aku yang datang.”
“Iya deh.”
“Tunggu ya, princess..” Jeff menutup telepon.
Aku mengambil sebendel kertas dari dalam tas. Beberapa lembar kertas ini adalah naskah film pendekku. Sebuah film pendek yang aku buat susah payah. Tapi semuanya sepertinya sudah berakhir. Padahal lewat audisi Teen Movie Maker lah satu-satunya jalanku meraih semuanya. Sutradara terkenal. Gue benar-benar menginginkannya. Aku menggumam dalam hati, seperti biasanya. Ngga sengaja aku menjatuhkan tas disampingku dan membuat isinya berceceran di lantai. Semua barang-barang gue hari ini, gila banyak banget, mungkin gue bakalan kaya kalau tiap hari dapet bayaran buat bawa semua school stuffs ini. Aku memerhatikan sebuah buku berjudul ‘Dream Big’ diantara buku-buku sekolahku. Buku tentang motivasi dengan sampul bergambar balon warna-warni. Buku pemberian Manda, untuk memberiku inspirasi, katanya. Yah, kurasa dia mulai menyemangatiku. Aku meraih buku itu. Satu persatu halaman aku buka dengan tidak acuh. Aku terlalu malas membacanya. Kurasa menonton film jauh lebih menyenangkan daripada membaca buku. Aku mendengus. Tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah halaman. Halaman 14, kalimat yang dikutip dari Woodrow Wilson.
“Semua orang adalah pemimpi. Mereka melihat segalanya bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa dari kita membiarkan suatu impian mati, namun yang lain memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka yang selalu berharap impiannya akan menjadi nyata. Semua yang Anda impikan, Anda inginkan dan Anda harapkan, akan dapat Anda raih jika Anda memiliki kekuatan untuk bertahan, jika Anda dapat tetap terfokus pada tujuan Anda dengan intensitas yang cukup dan dengan satu tujuan.”
Aku bengong. Ini kata-kata terindah yang pernah kubaca. Mungkin buku itu dikirim Tuhan padaku sebagai perwujudan dari malaikat. Aku tertawa sendiri. Buku ini adalah malaikat yang dikirim Tuhan? Kalau begitu, buku ini pasti punya sayap tersembunyi. Aku pasti sudah gila. Makin hari, otak gue semakin kacau. Berasa apa kalik gue kalau kayak gini terus. Ha-ha. Aku membaringkan tubuhku lagi dan buku itu kuletakkan di atas dadaku, mencoba meresapi semua kata-kata tadi. Aku bisa, ya, aku bisa meraih apa yang aku inginkan. Tuhan selalu memberi jalan.
Ponselku berdering..
Ternyata aku tertidur tadi. Jeff pasti sudah sampai dan sedang berusaha menelponku. Benar, Jeff menelpon. Aku melempar ponselku ke meja dan segera berlari menuju ruang tamu. Jeff sudah duduk disana dan tersenyum manis padaku. Aku membalas dengan senyuman riang dan menghampirinya. Aku langsung memeluknya. Aku bisa mencium wangi parfum Drakkar, parfum yang sangat dia sukai.
“Luna, aku tadi ngga ingin bangunin kamu. Jadi aku telpon aja biar kamu bangun sendiri.” Kata Jeff sambil tertawa.
“Itu sama aja bangunin aku. Dasar. Tapi maaf ya aku ketiduran.” Aku merapikan kemeja Jeff. Dia tampan hari ini. Dia juga terlihat sangat dewasa, mungkin karena dia lebih tua dua tahun dariku sehingga aku sering melongo melihat gaya berpakaiannya yang berbeda dari anak seumuranku. “Mama ngga bangunin aku. Harusnya Mama bangunin aku.”
“Mama kamu ngga di rumah kok.”
“Loh? Tadi Mama di rumah.”
“Kata Bi Sami, Mama kamu lagi nyetorin tulisannya ke penerbit.”
“Oh.. emang dasar penulis ya ke penerbit terus kerjaannya.” Kataku ketus.
“Karena itu ‘kan nama kamu Penaluna. Mama kamu penulis dan juga pelukis, seniman dehpokoknya. Pena dan Luna. Penaluna Windy Arzen. ” Jeff mencubit pipiku.
“Tapi kalo Papa itu ‘kan investor. Berarti harusnya nama tengahku Investasi.”
Jeff tertawa terbahak-bahak. “Penaluna Investasi. Nama kamu keren banget!”
Aku memandang wajah Jeff. Cara tertawanya yang begitu lepas dan juga mata coklatnya. Aku suka kedua mata coklat itu. Jeffri Raditya, aku sudah pacaran dengannya semenjak aku di kelas tiga SMP, sekitar tiga tahun yang lalu. Dia begitu berarti bagiku.
“Oh iya, ngomong-ngomong soal audisi, semuanya bukan salah kamu, sayang. Kamu udah usaha keras selama ini buat bikin film pendek itu. Kita semua tahu kamu yang terbaik. Mungkin Emma lagi lucky aja.” Jeff meraih tanganku.
“Kita semua? Siapa yang kamu maksud kita semua? Mamaku? Papaku? Sahabatku sendiri, Kesly sama Manda? Mereka pikir aku yang terbaik untuk ini?”
“Udahlah, sayang. Kamu harus senyum. Ayo senyum..” Jeff menarik-narik kedua ujung bibirku dan membuatku tidak bisa menahan tawa. Jeff selalu membuatku tersenyum dan menjagaku. Dia segalanya. Sesuatu di dalam dirinya membuatku merasa begitu berarti. Aku sangat mencintainya.
Sore itu Jeff mengajakku keluar rumah hingga malam. Tentu saja untuk menghiburku. Dia membawaku ke pasar malam di pinggiran Jakarta. Wahana bermain anak-anak yang sederhana, penjual mainan, permen kapas, lampu-lampu malam, anak-anak kecil dan tawa mereka. Semuanya membuatku merasa lebih baik. Membuatku merasa seperti anak kecil lagi, saat aku bebas bermimpi seperti kupu-kupu yang bebas terbang dan selalu merasa semuanya begitu mudah untuk diraih.
Mobil Papa berhenti di depan sekolah. Aku mencium pipi Papa dan langsung keluar mobil untuk menghampiri Kesly dan Manda yang sudah berdiri di depan gerbang. Mereka selalu menungguku disana setiap pagi sambil duduk-duduk di bangku bawah pohon depan sekolah.
“Hey, you guys!” Sapaku dengan senyum ceria sembari menarik mereka melewati gerbang sekolah. Kedua sahabatku itu langsung menyerbuku dengan pertanyaan.
“Beneran Lun, Emma yang dari SMA 23 yang menang? Kok gue baru tau, loe ngga bilang-bilang.” Manda dengan wajah penuh penasarannya.
“Iya, sengaja ngga gue sebarin. Gue malu.” Jawabku datar.
“Tuh ‘kan Lun, Teen Movie Maker itu audisi yang susah banget. Hadiahnya aja ngga tanggung-tanggung: langsung dapet project dan ikutan gabung bareng sutradara-sutradara terkenal di berbagai seminar! Gila aja.” Kesly menarik tangan kananku dan membuat beberapa bendel kertas tugas yang kupegang jatuh. “Eh.. maaf, Lun. Gue ngga sengaja. Maaf banget.”
Aku tersenyum kecut, sementara Kesly memungut naskah yang berserakan di tanah. “Udah ngga apa-apa, Kes. Sini kertasnya. Jalan ke kelas, yuk.”
Kelas masih sepi. Sepertinya kami bertiga berangkat terlalu pagi. Aku memerhatikan anak-anak kelas sepuluh dan sebelas lalu lalang di depan kelasku, mereka berteriak pada anak-anak kelas duabelas dengan senyum mengembang di wajah mereka: “Pagi, kak” “Have a nice day, kak.”. Terasa baru kemarin aku seperti mereka, kesana kemari untuk menyapa kakak kelas yang paling senior. Itu semacam tradisi sekolahku setiap pagi. Konyol memang. Tapi hal itu yang akan selalu membuatku merindukan masa-masa SMA.
Aku masih tenggelam dalam pikiraanku sendiri hingga aku teringat sesuatu. Aku langsung mengecek tas. Dan benar saja setelah seisi tas aku acak-acak, aku ngga menemukannya. CD film pendek gue hilang! Gue yakin gue masukin ke dalam tas kemarin. Haduh bego banget gue sampe hilang gini. Kalo ilang, ya mati gue. Aku buru-buru menelpon rumah untuk menanyakan CD itu ke Bi Sami, mungkin saja dia melihatnya di kamarku. Tapi kata Bi Sami dia ngga melihatnya. Haduh mati gue bisa mati!
“Kenapa, Lun? Kok muka loe aneh gitu?” Kesly yang duduk di sebelahku nyeplos.
“Ada yang hilang. Haduh bego banget gue.”
“Apaan yang hilang, Luna Lalunna?”
“Eh, ngga apa-apa kok. Barang ngga penting he-he.” Aku nyengir. Kayaknya emang ngga usah dicari deh. Seinget gue, masih ada back-up nya di rumah. Semoga aja ngga ditemuin orang iseng.
Aku berpikir keras. Kira-kira siapa yang menemukan CD film pendekku itu? Pencari bakat atau juri Teen Movie Maker yang akhirnya menyadari bakatku dan memberiku kesempatan kedua untuk jadi juara? Aku tertawa kecil. Aku menertawai kekonyolanku. Kesly yang duduk sebangku denganku memandangiku aneh, tapi dia tahu bagaimana aku saat bertingkah aneh, terutama saat aku tertawa sendiri tanpa alasan, benar-benar seperti orang aneh. Dia membiarkanku lalu kembali sibuk dengan buku tugas matematikanya.
Jauh dari perkiraanku, bukan pencari bakat atau juri Teen Movie Maker yang menemukan CD itu, tapi Ivan. Dia salah satu anak populer di sekolah, dia juga super tajir, orangtuanya bukan orang sembarangan. Aku ngga pernah kenal dia, bahkan ngobrol sekalipun engga. Tiba-tiba dia menghampiri mejaku saat aku masih berkutat dengan PR matematika yang belum sempat aku kerjakan semalam—sangat realita anak SMA—. Tangannya mengulurkan sebuah formulir pendaftaran dengan kop bertuliskan Vancouver Film School.
“Luna Lalunna Penaluna, loe jatuhin CD loe di depan ruang OSIS kemarin dan gue temuin. Demi apa film pendek loe keren banget! Bener-bener ngga nyangka gue. Gue rasa loe cocok masuk ke Sekolah ini. Bokap gue yang rekomendasiin.” Ivan tersenyum padaku. Aku melongo, begitupun Kesly yang langsung menyerobot formulir itu dari tangan Ivan.
“A-apa? Bokap loe? Gimana bisa? Maksud gue, loe bahkan ngga kenal gue, iya kan? Kok bisa?”
“Banyak nanya nih loe, Lun. Udah ini terima aja formulirnya. Juga lampirin CD loe ini. Terus kirim ke alamat yang ada di kop. Gue yakin loe ngga cuman diterima, beasiswa bahkan udah nunggu elo. Bentar lagi ‘kan kita juga udah lulus, jadi loe bebas nglanjutin dimana aja.” Cetus Ivan sambil menyodorkan CD film pendekku.
“Loe serius?” Aku masih memandangnya heran.
“Bokap gue nonton film pendek loe. Gue sih yang ngajak dia buat nonton. Gue juga kenal loe. Luna Lalunna Penaluna, si cewe cantik yang gue taksir dari kelas satu, tapi sayang udah punya pacar. Btw, good luck, ya. Kabarin gue berita baiknya.” Ivan nyelonong pergi dengan tawa di wajahnya. Luna Lalunna Penaluna, si cewe cantik yang gue taksir dari kelas satu, tapi sayang udah punya pacar. Aku bengong, ngga bisa ngomong apapun. Vancouver Film School? Bahkan lebih hebat dari hadiah Teen Movie Maker!
Kesly melambaikan tangannya di depanku. “Penaluna, loe masih hidup, ‘kan?”
Beberapa bulan kemudian..
Jeff, Mama, Papa, Kesly, Manda, dan Ivan. Satu-persatu dari mereka memberiku pelukan perpisahan. Pesawat berangkat lima menit lagi. Iya, aku dapat beasiswa di Vancouver, Amerika itu dan berangkat lima belas menit lagi, tepat lima belas menit lagi. Ngga ada lagi yang memaksaku untuk jadi dokter, ngga ada lagi yang meremehkanku karena paling tidak aku seudah membukitikan kemampuanku pada mereka. Aku bisa meraih apa yang aku impikan. Yah, belum jadi sutradara hebat juga, sih. Tapi ini sebuah pijakan awal. Selama ini aku jadi orang aneh, terlalu terobsesi, semuanya karena aku ingin meraih apa yang aku inginkan. Ada yang salah dengan bermimpi? Semua orang bebas bermimpi. Semuanya berawal dari mimpi. Ngga ada yang bisa mengendalikan masa depan kita selain diri kita sendiri, bukan orang lain. Terkadang kabar baik juga datang dari orang yang sama sekali ngga terduga, dari orang yang bahkan ngga terlintas di pikiran. Ivan si anak populer yang entah gimana sekarang jadi salah satu sahabatku. Dia sangat berjasa bagiku. Suatu saat aku akan membalasanya. Hmm.. dan tentang Jeff, dia yang akan selalu di sisiku. Dia berarti segalanya. Dia belahan jiwaku.
Aku berjalan meninggalkan orang-orang yang kusayangi. Tentu saja meninggalkan mereka untuk sementara. Kulihat mereka tersenyum padaku. Senyum ceria mereka. Senyum dengan rasa bangga mereka. Mereka melambaikan tangan padaku, mulut mereka bergumam dan aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan. Tapi aku percaya mereka mengatakan ‘Kami mencintaimu, Lun’.
Luna Lalunna Penaluna. Well, ini bukan akhir, tapi permulaan dari sebuah akhir..
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 September 2012 in Cerita, Romantis

 

Tag: , , , , , ,

Lucu part 8

Masih di Dalam Bungkusan

Seorang pria kasep calon pengantin,yang akan menikah esok hari nya.Punya hobby main tennis,ketika dia sedang bermain tennis.Bola smash dari kawannya tepat mengenai alat vitalnya.

Saking kerasnya smash tersebut,dia pingsan dan dibawa ke RS terdekat.Setelah diberi obat penghilang rasa sakit,serta di bungkus perban. Si calon pengantin laki yang mau menikah besoknya,di persilahkan pulang ke rumah oleh dokter.

Esoknya setelah prosesi pernikahan selesai,tinggallah kedua pengantin baru di dalam kamarnya.Si pengantin wanita sudah menanggalkan semua pakaiannya,si pria masih memakai sarung.

Si wanita lalu berkata sama suami nya sebagai berikut:

Istri: “Suamiku,tubuh semua ini masih fresh.Belum pernah ada seorang pun menyentuhnya.Bagaimana dengan dirimu sayang…?”

Suami: “Apalagi aku,punyaku ini juga masih di bungkus.”(sambil mencopot sarungnya).

Istri: “??@@#!!!!”

Berobat Dengan Dokter Bermasalah

Pada suatu hari ada seorang pria datang ke praktek dokter.

“Pak Dokter, perut saya belakangan ini sering sakit “,keluhnya.

Dokter lalu memeriksa pasien tersebut. Setelah selesai pemeriksaan, lalu diberitahu tentang penyakitnya, pasien itu di beri obat oleh dokter.

“Obat ini harus dimasukkan lewat anus, dan harus tepat lokasinya, . . . untuk sekarang, saya yang akan memasukkan obat ini.” Lalu Dokter tersebut memasukkan obat tersebut.

Setelah selesai….” Dan ini obat untuk nanti malam.”

Pulanglah pria tersebut. Malam pun tiba dan dia harus memasukkan obat itu ke anusnya. Karena susah untuk memasukkan sendiri, lalu dia memanggil istrinya.

“Bu tolong masukkin obat ini ke anus saya.”

“Sini saya masukkin, bapak nungging dulu dong…”

Sementara pria itu tersebut nungging, satu tangan si istri di letakkan di pundak untuk menahan posisi, lalu satu tangan lagi untuk memasukkan obat.

“AAHHHH…!!!” teriak si pria . . .

Istri nya kaget : “Sakit ya pak..???”

“nggak..!!!,bukan sakit…!!!

Saya baru sadar, ketika dokter itu masukkin obatnya ke anus saya, kedua tangannya ada di pundak saya….”

Pertandingan Sepakbola Arab Vs Indonesia

Pada suatu pertandingan sepak bola antara Arab melawan Indonesia nampak pesepak bola Arab yang baru pertama kali tampil di depan umum.

Dan ketika dia melonjak, langsung para penonton memberi tepuk tangan yang meriah. Dia pun semakin girang dan kencang melompat.

Bukk!!! Tiba-tiba dia terjatuh!!! Pingsan!!! Rekan se-tim langsung merubunginya tak terkecuali sang pelatih yang ikut penasaran.

Tim Medis segera memeriksanya.

Tidak ada gejala penyakit apapun!!!??

Tiba-tiba dari sisi luar lapangan kameramen meneriakki mereka sambil nahan ketawa.

Setelah di replay ternyata ada kesalahan saat meloncat tadi.

Sudah jadi kebiasaan orang arab pakai jubah dan tak bercelanadalam.

Jadi, tumit kakinya yang bersepatunya menyambar anunya yang gondal-gandul hingga pingsan…..

Bagaimana Bisa Gemuk

Seorang Dosen bertanya pada seorang siswanya yang paling kurus dan paling suka ngintip cewek.

Dosen : “Hei…Joko abis kuliah kerjanya dirumah apa sih..?”

Joko : “Ya…..habis makan tidur Pak…!!,Ya… biasalah Pak anak Kost…!!”

Dosen : “Lah itukan senang dong, tapi kamu kok kurus sih..??”

Joko : “Ya… gimanalah Pak yang masuk Supermi eh…… tau-taunya yang keluar Sperma, gimana mau gemuk..”

Sepenggal Singkatan Lucu

PANDE DIDAPUR : Pantatnya Gede Dada Siap Tempur
MINAK JINGGO : Miring Enak Njengking ya Monggo
MEETING LEMBUR : Mijat Yang Penting-penting, Nglempengake Burung
KOTBAH : Atas Nyokot(menggigit), Bawah Obah (gerak)
KUSUK : Kakune Pendak Isuk (kakunya ketika pagi)
BERIMAN : Berselingkuh Dengan Istri Teman

Mengganti Warna Cat

Kabul seorang Pengusaha yang kaya. Sering kali dia membuat kejutan buat isterinya, maksudnya mau menyenangkan dan memanjakan sang isteri.

Meskipun Kabul punya beberapa pembantu, tetapi ia senang mengerjakan sendiri segala sesuatu yang berhubungan dengan rumahnya. Seperti hari itu, ketika isterinya masih tergolek bermalas-malasan di tempat tidur yang empuk.

Tanpa sepengetahuan isterinya dia memutuskan mengganti warna cat kamar mandinya. Entah mengapa, yang di cat pertama kali oleh Kabul adalah dudukan closet di kamar mandi itu.

Setelah itu dia turun ke gudang di lantai dasar untuk mencari kuas yang baru dan tangga. Sementara itu, diatas, isterinya merasakan panggilan alamiah dan bergegas ke kamar mandi. Di sana dia langsung duduk di closet tersebut.

Tiba-tiba terdengar jeritan isterinya, Kabul buru-buru lari ke atas. Dia berusaha membebaskan isterinya dari rekatan cat, tapi gagal. Dalam keadaan gugup dan sedikit putus asa dia melepaskan dudukan closet itu dan membopongnya bersama isterinya ke kamar tidur.

Setelah itu dia menelpon Dokter. Tak lama kemudian Dokter tiba.

“Silahkan ke kamar tidur. Saya akan menunjukkkan sesuatu yang mustahil buat Anda, ” kata Kabul, masih dengan gugupnya.

Dia lalu menarik selimut yang menutupi tubuh isterinya, sambil berkata kepada Dokter : ” Bagaimana menurut Anda ? “, tanya Kabul.

“Saya pikir cukup menarik, tapi mengapa pakai di bingkai ?”, jawab Dokter itu santai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 September 2012 in Artis news, Indonesia

 

Tag: , , , , , , ,

diantara kisahku kau dan dia

Dewi hanya terdiam, seakan tak percaya apa yang didengarnya.Kekasih yang selama ini ia sangat sayangi, dan ia sangat cintai,brniat memutuskan hubungan mereka.
‘’putus” hanya kata itu yang selalu terngiang ditelinganya….sedih,,bingung,,,bercampur baur menjadi satu. Tanpa terasa air mata mengalir dari tepian matanya yang indah.Sambil terbata-bata ia berucap
’’kenapa’’ dengan suara yang serak dan perlahan.
sebenarnya banyak kata danpertanyaan didalam hati yang ingin diucapkan , namun seakan-akan semua itu tersangkut ditenggorokannya, tak sanggup berkata-kata hanya itu kata yang terucap.
‘’Mungkin kita sudah tak sejalan lagi’’ jawab fauzan kekasih yang sangat dewi, namun dengan nada datar.
Semakin pilu perasaan hati dewi harus menerima kenyataan ini.air matanyapun semakin deras mengalir.
“ya..udah aku pulang dulu”kata fauzan mengakhiri pertemuan mereka disore itu, sambil terus berlalu dari hadapan dewi.
Dewi yang sedari tadi tak bisa berjkata-kata dan hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir…seakan sempit dunia ini seakan gelap pandangan mata dewi. Iapun terus menangis……
====================================
“de…de….bangun…bangun…..liat tuh jam berapa? Gugah mamanya dewi dari depan kamar dewi.
“iya maa….”jawab dewi dengan suara yang agak serak.
Dewi langsung bangun dan melihat jam beker
“hah…. jam segini?” ternyata dia bangun kesiangan karna semalem gak tau dia tidur jam berapa, karna semalaman ia hanya menangis.dewi langsung mandi dan memakai seragam sekolahnya, lalu ia duduk didepan cermin merapihkan wajahnya, terlihat matanya sembab karna habis menangis semalaman.
Masih terekam jelas diingatan dewi saat kemarin fauzan memutuskan hubungan dengannya hanya karna persoalan yang gak jelas, karna selama ini nyaris tak pernah ada permasalahan antara hubungan mereka berdua.
“de…mau sekolah gak? Dah siang nih? Kk mau ada kuliah pagi”kata kakak dewi yang membuyarkan lamunan dewi
“iya sebentar…sebentar,,,jawabdewi sambil menyeka air mata yang tanpa terasa mengalir.
“ma …pa dewi berangkat dulu ya”kata dewi sesaat setelah sampai keruang tengah rumahnya.
“gak sarapan dulu?”tanya ibunya
“gak mam…ntar aja disekolah”jawab dewi sambil mencium pipi ibunya dan ayahnya
“mata kamu kenapa de? Kok sembab gitu?”tanya ayahnya heran.
“gak papa kok pa,Cuma kurang tidur aja”jawab dewi.
sebenarnya dewi bukan tipe orang yang suka berbohong , apalagi pada kedua orang tuanya.tapi karna tak ingin kedua orang tuanya panik makanya ia berbohong.
v ======================
“Asalamualaikum” dewi pamit sambil keluar dari rumahnya, dan taklupa ia menyalami kedua orang tuanya.
Wa’alaikum salam”. Hati-hati dijalan!”jawab ayahnya
Pagi itu seperti biasa dewi berangkat sekolah diantarkan oleh kakaknya. sekalian kakaknya berangkat kuliah.
“kakak mau terus aja ya de?…”kata kaknya sesampainya didepan gerbang sekolah dewi.
“ya kak” jawab dewi langsung menyalami kakaknya
“assalamualaikum” kata kakanya
Waalaikum salam”jawab dewi
Dewi langsung aja masuk kedalam kelas, disana ada teman sebangkunya EVA.
“pagi?”sapa eva.
“uga”jawab dewi. Sambil duduk disebelah eva dan meletakan tasnya.
“mata kamu kenapa de..?”tanya eva
“gak papa”jawab dewi
“mungkin karna semalam aku rang tidur jadi mataku sembab”timpalnya
Tak berapa lama datanglah yani sahabat eva dari kecil
“ “pagi semua”teriaknya dengan senyuman yang khas.
“pagi “jawab eva”siap-siap ratu gosip dateng” celoteh eva lagi. Sambil tersenyum melirik yani.
“de..de..kamu masih jadian ma fauzan?”tanya yani pada dewi sesaat setelah iya duduk didekat mereka berdua
“emangnya kenapa”tanya eva pada yani.
”semalem aku dapet sms dari siti, katanya fauzan jalan ma silvi”kata yani dengan antusias.
‘dan katanya lagi mereka pelukan mesra banget.”kata yani semakin menggebu-gebu
“bukannya kamu pacaran ma fauzan de?”tanya eva dengan muka yang penuh tanda tanya pada dewi
Dewi tak bisa menjawab hanya air mata yang mengalir dari matanya yang indah,bibirnya kelu perasaannya semakin hancur, setelah kemarin ia diputuskan oleh fauzan sekarang ia mendengar kabar yang lebih mengagetkannya.
Silvi adalah sahabat baiknya yang baru 2 bulan yang lalu ia kenalkan pada fauzan ternyata tega merebut fauzan dari dirinya.
“a..aku dah putus”jawab dewi dengan terbata-bata.sambil menyeka air mata yang sedari tadi mengalir.
“kapan?”tanya eva lagi.
‘’kemaren”jawab dewi agak lebih tegar
“tapi tega ya silvi ma kamu de, padahal dia tau bahwa fauzan itu kekasihmu dan baru kemaren kalian putus,kok tega-teganya dia jalan ma fauzan? Sambil peluk-peluk juga.”kata eva dengan nada jengkel
“biarin aja”jawab dewi
Padahal didalam hati dewi penuh dengan kekecewaan ,kemarahan,kesedihan namun ia tahan ia tak mau menunjukkan semuanya didepan sahabat-sahabatnya.
=========================
Sesampainya dirumah dewi langsung masuk kekamar. Tanpa ganti pakaian ia menghidupkan laptop putih kesayangannya, hadiah ulang tahunnya yang ke17, dari kakanya. Teringat pesan dari kakaknya
“kalo kamu ada unek-unek atau keluh kesah atau apapun yang kamu anggap itu berkesan dan sangat berarti, kamu tulis aja di laptop ini.”pesan kakaknya waktu iyi.
Lanngsung saja dia buka microsof world dan menulis puisi
DIA…..
DISAAT RASA INI ADA,,,,,
DISAAT CINTA INI BAHAGIA..
LEPAS BERSAMA ANGIN….
TAPI… SERAYA TERSANJUNG SEPI…
TERBUKA TABIR MENGUSIK….
DIA….
KENAPA HARUS DIA?….
TEMPATKU BERCURAH, DARI SEGALA KELUH KESAH…
TEMPATKU BERBAGI,DARI SEGALA ISI HATI…
DIA ……
KENAPA HARUS DIA?…
Tanpa terasa air mata dewi kembali menetes.tapi ia lanjutkan menulis.
YA ALLAH YA ROBBI…
AKU SADARI DIRI..
BERANJAK DARI SADARI….
ATAS SEMUA INI …HANYA ENGKAULAH YA ,,, ROBBI…
YANG TELAH MENGHENDAKI KEBAIKAN , DARI DIRI INI,,,,,
NATAR-LAMPUNG-13_O7_2012.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Romantis

 

Tag: , , , , , ,

Lucu part 7

Anjing Saya Tidak Bisa

Seorang wanita berusia 22 tahun yang bernama Marni memutuskan untuk pergi ke dokter untuk tes urine karena ia sudah gerah mendengar perkataan temannya kalau dia mengidap HIV.

Ketika sedang menunggu hasil tes dokter bertanya “Kenapa lututmu lecet ?”

Marni : “Ini akibat gaya anjing”

Dokter : “Memang ngga bisa gaya yang lain ?”

Marni : “Bisa sih, tapi anjing saya yang ngga bisa”

Dokter : “#$!!!%??”

 

Rudi Terkena Flu Burung

Ada sepasang remaja yang mengalami keterbelakangan mental sedang berkencan pertama. Sebut saja Ani dan Rudi.

Sepulang dari pacaran, Ani menangis. Si ayah sudah ngamuk, si ibu sudah bingung.

Ani cerita ke orang tuanya: “Rudi akan mati…”

“Kenapa?”, Tanya si Ayah. Kemudian Ani menjawab, “Rudi terkena flu burung yah..”

“Flu burung?” Tanya si Ayah.

Jawab Ani: “Iya, tadi Ani dan Rudi berciuman, lalu burungnya Rudi jadi melar, bergetar-getar terus bersin-bersin dan meler keluar ingusnya. Burungnya kena flu, Rudi akan mati, huhuhuhu…” (Sambil menangis makin keras.)

Ayah: “Ma, ini anak kita dikawinkan saja deh!”

 

Lepas Setelah 2 Gallon

Iseng-iseng pada suatu siang yang sangat panas, pemuda berumur 14 tahun sebut saja namanya Joni yang sedang berada di tempat pemerasan susu sapi milik ayahnya yang sedang sepi karena hari libur. Tiba-tiba muncul gairah seks alamiah dari perasaannya.

Joni : “Kenapa harus sekarang sih ?”

Secara tidak sengaja Joni melihat alat sedot susu sapi yang tergeletak begitu saja. Akhirnya Joni memasukkan ‘anu’ nya ke alat sedot susu sapi tersebut. Setelah beberapa menit Joni pun merasa sudah puas.

Joni : “Wah dahsyat, tapi kok ga bisa lepas yah!!”

Dengan sangat penasaran Joni memaksakan agar alat tersebut bisa terlepas dari ‘anu’ nya. Secara kebetulan buku manual dari alat sedot susu sapi tersebut tergeletak didekatnya.

Joni pun langsung mencari cara untuk melepaskan alat tersebut. Akhirnya cara untuk melepaskan alat tersebutpun ketemu dihalaman 69. Dihalaman 69 terpampang dengan sangat jelasnya “AUTO RELEASE AFTER 2 GALLONS” (melepaskan secara otomatis setelah 2 galon)

Joni : “?%¿¥.#+{?”

 

Penelitian WC Cowok Dengan WC Cewek

Seorang peneliti bereksperimen tentang budidaya ikan lele. Ikan-ikan tersebut sengaja di taruh di dua kolam. Di atas kolam pertama dibangun WC khusus cowok, sementara di atas kolam kedua dibangun WC khusus cewek. WC-WC ini diharapkan menjadi sumber makakan ikan ketika ada yang buang air.

Selang tiga bulan kemudian peneliti melihat pertumbuhan yang tidak wajar, ikan lele di kolam pertama badannya lebih kecil dibandingkan dengan ikan lele di kolam kedua. Peneliti bingung dan mencoba menganalisanya.

Dia menyimpulkan bahwa ikan lele di kolam pertama selama ini mengalami stress secara terus menerus. Sebab, meskipun mereka diberi makan, tapi mereka diancam dengan “PENTUNGAN”. Sebaliknya, ikan-ikan lele di kolam kedua meresa nyaman dan terhibur karena selain diberi makan (eek), mereka juga diberi “SENYUMAN”….

 

Tidak Memperkosa Anak Di Bawah Umur

Pada suatu hari terjadi persidangan, di sebuah kantor pengadilan. Yang membahas tentang si Udin yang tua berumur 70 th, memperkosa anak umur tujuh tahun.

Dalam persidangan tersebut terjadi banyak perdebatan,antara hakim, jaksa penuntut, dan Udin.

Hakim : “Saudara Udin anda dituduh atas pemerkosaan anak dibawah umur !, bukan begitu saudara jaksa?”

Jaksa : “Tepat sekali yang mulia!”

Karena tuduhan hakim dan jaksa masih memberatkan si Udin,akhirnya Udin protes…

Udin : “SAYA TIDAK TERIMA YANG MULIA!!!”

Jaksa : “Tidak terima gimana, korban ada, saksi banyak kurang apa lagi?” (dengan senyuman sinis)

Udin : “Pokoknya saya tidak terima..!!, jelas-jelas saya tidak perkosa anak dibawah umur?”

Hakim : “Kalau bukan di bawah umur terus apaan?”

Dengan keyakinan Udin menjawab,”SAYA PERKOSA ANAK DIBAWAH KASUR…!!!??@#$”

 

Muntah Di Dalam Mobil

Seorang suami baru saja membeli mobil jenis kijang innova th 2006,dan dia juga berniat pergi jalan jalan ke luar kota.

Dia ingin sekali mengajak istrinya yang suka mabuk jika berpergian,dan berpesan agar jangan sampai mabuk / muntah dimobil saat berpergian nanti.Dan istrinya pun bilang Insya Allah,ternyata masih juga muntah saat dalam mobil tersebut.

Sang suami marah besar karena mengotori mobil barunya,sang istri cuma diam saja.Setelah reda si istri cuma bilang sbb:

Istri: “Mas..Mas,aku muntah sekali saja di mobilmu kamu marah…Setiap malam minggu kamu muntah dimobilku,aku rela saja kok.”

Suami: “??#$$!!!”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Lucu

 

Tag: , , , , ,

Cerpen Fiksi Cinta : Aku Telah Pergi, Nina!

Aku hanyalah manusia kerdil yang di pandang orang sebelah mata, aku hanyalah      manusia nista yang di caci maki orang di luar sana. Aku bagai sampah yang di
ludahi, di tindas, lalu di lenyapkan. Kala rintik hujan mulai turun kaki ku membaur darah di mana-mana, serpihan beling menancap pedih di dasaran kaki hingga terkadang tak ku lihat lagi darah segar yang bermuncratan dari kaki ku. Apa sebab? Karna darah ku telah bersatu dengan tanah yang ikut menjadi kawan pilu di setiap langkah ku. Aku ini hanya lah seorang pemulung kecil yang terpaksa terjun ke hamparan tanah dengan kaki telanjang dan baju setia yang selalu melekat di tubuhku.  Tak ada ibu apa lagi bapak. Aku bagai butiran telur yang di biarkan menetas sendiri, tak ada kehangatan yang menyelimuti, hanya setitik cahaya yang mampu menerangi jalan hingga aku seperti ini.
       Tapi aku masih bisa tersenyum manis di atas kepahitan yang mendera hidupku. Sebab aku tak sendiri, Tuhan memberi ku teman untuk menyusuri petualangan hidup yang sesempit ini. Nina mampu membuatku tersenyum meski sengaja luka ku harus terselubung. Ya, dia adik ku yang ikut merangrang duka bersamaku. Usia nya masih enam tahun dan aku empat tahun lebih tua dari nya, kami sepasang kakak adik yang terlantar dari orang tua, ibu ku telah pergi sejak iya memperkenalkan Nina ke dunia. Sedang bapak ku. Ah aku tak peduli? Karna iya pun tak peduli dengan aku dan Nina. Setelah empat tahun ibu pergi meninggalkan kami, bapak telah menemukan penggantinya. Secepat itu memang bapak melenyapkan ibu dari memory otak nya. Mungkin dia layak di sebut sebagai orang yang tak memiliki otak. Sebab kala adik ku memasuki umur empat tahun dengan seenak hasrat nya iya meninggalkan kami. Dan bayangkan, kala itu usia ku masih delapan tahun, di mana usia seperti itulah aku membutuhkan kehadiran sosok ayah. Aku memang tak menuntut kehadiran ibu kala itu, karna aku menyadari bahwa ibu tak akan mungkin kembali bersama kami.
    Aku melihat ibu pergi saat detik-detik kelahiran adikku, dan itu nyaris membuat hidup ku pupus. Meskipun usiaku sangat belia tapi aku merasakan kedukaan itu. Dan saat orang-orang mengangkat jasad ibu hingga memasukan nya ke tanah liat yang terkesan berbentuk balok itu, aku hanya bisa melihat nya dari atas dengan sesekali aku menitihkan air mata. Kecil-kecil saja aku telah di perlihatkan dengan kematian. Sungguh ironi memang! Kendati begitu aku tak pernah mengeluh pada kehidupan, aku jalani sekuat ragaku, sepanjang hembusan nafas ku. Hingga akhirnya aku membesarkan nina dengan kedua tangan ku sendiri, meski aku terlahir sebagai seorang lelaki tapi aku mengerti bagaimana cara mengurus adikku. Dengan pekerjaan ku yang hanya seorang pemulung, ku rasa aku mampu memberi sebungkus nasi untuk Nina. Meski terkadang aku rela tak makan karna nya. Aku menyanyangi Nina melebihi segala nya. Dia adik satu-satu nya yang aku punya hingga kini. Dan kami hidup di sebuah gubuk kecil di pinggiran jalan. Hanya gubuk itu satu-satu nya tempat yang dapat kami tumpangi, meski terkesan tak layak untuk di tinggali, tapi aku rasa itu sangat layak untuk aku dan Nina hidup untuk masa ke depan nya.
     Kala awan gelap turun lebih cepat dan langit jingga tak tampak lagi menyinari, hingga matahari kembali beradu di ufuk barat. Aku masih berjalan diiringi kegelapan, aku melangkah menyusuri sampah demi sampah yang menggunung. Mencari sesuap nasi yang akan ku bekali untuk adikku, Nina. Meski kini aku tak bersama Nina. Iya sengaja ku tinggalkan sendiri di rumah tanpa iya harus mencariku, karna dari sejak iya berumur empat tahun itu aku telah mengajarinya kemandirian tanpa bergatung pada orang lain.  Mungkin kini iya hanya sedang berbaring menunggu kedatangan ku. Aku tau kalau tindakan aku ini tak sepantasnya ku lakukan pada nya. Tapi apa lah daya, aku ini tak memiliki apa-apa, tak mengerti apa-apa, kecuali hanya mencari tumpukan sampah.   Aku pun berjanji pada nya akan pulang jika aku telah membelikan makanan untuk nya. Oleh karna itu, aku masih menyusuri jalan dengan kedua kaki ku yang telanjang tanpa alas. Dan aku Singgah dari tempat satu ke tempat lain, mengharap mendapatkan tumpukan sampah yang bernilai guna.
       Tak lama aku menyusuri jalan yang tajam ini, keranjang sampah ku terasa berat. Ku rasa ini sudah cukup untuk membelikan sebungkus nasi untuk Nina. Dengan hati sedikit lega, ku langkahkan kaki  untuk menukarkan sampah itu agar menjadi lembaran uang. Ya, aku melihat di seberang jalan ada pasar yang menerima sampah-sampah bekas seperti ini. Segera ku susuri jalan dengan hati yang senang. Namun aku merasakan gelagat lain, jantung ku tiba-tiba berdenyut kencang, kaki ku mendadak kaku, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku pun tak meneruskan langkah, aku berhenti sejenak di pinggiran jalan. Tapi mata ku tak tahan untuk segera menyebrangi jalan itu, aku terbayang sosok adikku yang menunggu kelaparan, hingga akhir nya  ku turuti kehendak mataku itu. Aku mulai menggerakan kaki ke ruas jalan. Dan apa yang ku dapat! Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna biru metalik melaju dengan kencang nya hingga mampu membuat mataku menjadi suram. Aku seperti berada di depan cahaya yang teramat terang. Kaki ku kini menjadi mengeras bagai es di kutub utara, aku tak bisa bergerak, mata ku samar menatap, tubuhku mendadak lemas, dan aku terhempas. Semua orang berbondong-bondong menghampiri jasad ku. Aku melihat banyak mata memandang duka ke arah ku. Aku tak mengerti? Aku seperti telah terbang, kaki ku yang tadi nya bersentuh tanah kini tak ku rasa lagi. Badan ku terasa ringan. Aku pun mengawang, terbang ke atas langit. Pertanda apakah ini? Dimanakah aku sekarang? Dan sekelebat cahaya putih menghampiri ku. Wajah nya terlalu bersih berseri, iya mengenakan baju putih suci. Dia berkata padaku :
Sekarang sudah waktunya kamu ikut bersamaku?
Ikut bersamamu?
Iya.
Memang kita mau kemana?
Kita akan menuju hidup yang abadi?
Tidak! aku tak ingin ikut dengan mu, masih ada seorang adik yang sangat membutuhkanku, aku tak akan mungkin ikut dengan mu.
Tapi ini sudah saat nya, kamu bukan lagi manusia seutuh nya. Kamu adalah roh yang keluar dari jasad mu itu? Kata nya sembari menunjuk ragaku yang terbaring bersimbah darah di tengah jalanan.
Apa? Jadi aku telah mati?
Ya.
Tapi, berilah aku waktu untuk kembali menemui adik ku. Dia pasti sedang menungguku.
Baiklah, tapi waktumu hanya sebentar.
   Aku pun segera berlari meski kaki ku tak menyentuh tanah, bisa di bilang aku seperti terbang. Sesampai aku di gubuk tua itu. Aku melihat sepasang bola mata yang sangat redup terpancar dari raut adikku. Aku coba mendekati nya hingga hasrta ku ingin sekali mendekap nya. Namun sia, tangan ku menembus badannya. Aku sedih, hingga aku menangis di hadapan nya. “Maafkan, aku dik! Aku tak bisa lagi menemanimu seperti dulu, Aku tak bisa lagi membelikanmu sebengkus nasi, kini dunia kita telah berbeda . Tapi aku janji akan selalu menjaga mu dari atas sana.” Aku berucap sembari minitihkan air mata. Aku merasa kehilangan sosok nya. Dan ku lihat adik ku seperti kelaparan iya meremas perut nya dan berbaring sampai akhir nya aku melihat jasad nya untuk yang terakhir kali. Dan aku kini telah pergi jauh mengangkasa.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Romantis

 

Tag: , , , , , ,

Cerpen Horor#5: Ketukan

Tok. Tok. Tok.
Sari terbangun dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. Ia menguap terserang rasa kantuk sangat. Suara ketukan pelan dari pintu depan rumah membangunkannya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu depan. Sari melirik jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Ia melihat jam 5.30 pagi.
Ia pun beranjak hendak membukakan pintunya. Ketika hendak membukakan pintu, bahunya dipegang oleh Dodi. Sari menoleh.
“Sebaiknya jangan kamu buka,” ucap Dodi.
“Kenapa?” tanya Sari.
“Kamu lihat, jam berapa ini?”
Sari melihat jam dinding menunjukkan pukul 2. “Astaga!” sebut Sari.
Ternyata dirinya salah melihat jam tadi. Namun, Sari masih heran siapa yang mengetuk pintu rumahnya.
“Terus siapa tamu kita ini?” Sari bertanya lagi.
“Percayalah, dia bukan orang yang ingin kamu temui.”

Sari masih bergidik jika mengingat peristiwa semalam. Andai saja ia membuka pintu, apa yang akan terjadi pada dirinya? Beragam pertanyaan dan jawaban timbul di kepalanya. Dan kesemuanya jelek. Sari tidak suka
akan hal itu. Padahal kejadian semalam bukanlah kejadian pertama kali. Sudah beberapa kali kejadian serupa terjadi, sejak ia pindah ke rumah kontrakan ini beberapa bulan silam. Entah, kenapa dirinya selalu saja berusaha untuk membuka pintu.
Beruntung Mas Dodi selalu ada dan mencegahnya. Semisal Mas Dodi tak ada? Sari tidak mau melanjutkan pikirannya sendiri. Namun, apa yang dikhawatirkan Sari kemudian menjadi kenyataan. Sebagai seorang satpam, tiba juga giliran bagi Mas Dodi mendapat shift malam.
“Mas kapan pulangnya?” tanya Sari cemas.
“Jam 5-an paling,” sahut Dodi seraya memakai sepatu bootsnya. Sari terdiam. Raut wajahnya menampakkan kegelisahan. “Kenapa?” tanya Dodi.
“Hmm…”
“Nanti kalau ada ketukan lagi kamu jangan bukain pintunya yah,” jawab
Dodi seperti tahu apa yang dipikirkan istrinya.
Jujur saja, ditinggal sendirian kerja oleh suami malam-malam bukanlah sebuah pilihan. Dan hal ini sebenarnya membuat hati Sari kecut juga. Apalagi setelah kejadian itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Selain pasrah dan sabar menjalani hal ini.
“Ingat, jangan dibuka pintunya. Selama kamu nggak mbuka pintu, dia nggak akan bisa melakukan apapun selain mengetuknya selama tiga kali. Itu saja.”
Sari teringat pesan suaminya. Hanya saja, butuh nyali yang lebih untuk melewati suatu malam sendirian di rumah kontrakan baru. Dan nyali lebih itu dibutuhkan malam ini!

***

Tok. Tok. Tok.
Sari terbangun dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. Ia menguap terserang rasa kantuk sangat. Suara ketukan pelan dari pintu depan rumah membangunkannya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu depan. Sari melirik jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Ia melihat jam 5.30 pagi. Sari pun segera tersadar bahwa yang mengetuk pintu depan rumah adalah suaminya. Seketika itu juga ia beranjak dari tidurnya untuk membukakan pintu depan.
Tok. Tok. Tok.
“Sabar, Yah,” ucap Sari ketika mendengar ketukan itu lagi. Sari memutar kunci pintu ke arah kanan. Kemudian menggerakkan tuas pintu ke arah bawah. Begitu pintu terbuka, Sari terkejut bukan alang-kepalang. Matanya melotot! Yang ditemuinya bukanlah Dodi suaminya, melainkan sesosok makhluk tinggi besar, berbulu, bergigi besar dan matanya merah menatap nyalang ke arahnya.
Sari mundur beberapa langkah ke dalam rumah. Dengan cepat makhluk itu menangkap Sari. Kemudian membopongnya di atas pundak kanannya. Sari meronta-ronta dan memukul-mukuli punggung makhluk itu. Hanya saja, pukulan itu seolah tak berarti apa-apa baginya. Makhluk itu tetap berjalan. Sari berteriak-teriak meminta tolong. Suaranya hilang ditelan kegelapan malam bersama langkah makhluk itu.

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 2
.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , ,

Cerpen Horor#4: Hantu Bibir Merah

 

Aku berlari sekuat-kuatku berlari, saat kakiku menyandung sesuatu. Membuatku tersuruk-suruk jatuh ke tanah. Aku meringis kesakitan. Namun rasa itu sudah tidak kupedulikan. Tidak untuk saat ini. Tidak saat monster itu ada di belakangku. Mengejarku. Aku berlari kembali. Dan… Tiba-tiba aku harus menghentikan langkahku saat ia muncul di hadapanku.
Aku mundur perlahan-lahan. Tidak ada jalan keluar dari sini.
“Ahhh… Ahhh… Ahhh… Pergi!!!”

“Bu, aku minta tandatangan,” kataku sambil menyodorkan surat ijin untuk mengikuti kegiatan kemping pramuka di sekolahku.
“Apa ini?” tanya ibuku melihat surat yang kusodorkan.
“Surat ijin, bu,” sahutku, “Nanti habis ujian sekolah, anak-anak kelas 4 mau kemping.”
Ibuku mengambil surat ijin tersebut,  membacanya dengan seksama, lalu manggut-manggut dan menggumam, “hmm.” Sesaat kemudian, ibuku membubuhkan tandatangannya. Mendapatkan surat ijinku telah dibubuhi tandatangan, aku berjingkat kegirangan. Sudah lama aku menginginkan pergi bersama teman-teman untuk kemping. Karena aku suka petualangan.

Dengan mengantongi ijin dari ibuku, aku kemudian berangkat ke sekolah dengan keceriaan yang tidak biasanya. Di sekolah aku membahas hal ini dengan teman-teman sekolahku.
“Kau sudah mendapat ijin dari ibumu?” tanya Heru — sahabatku yang memiliki tubuh bongsor.
“Sudah dong! Nih!” Tunjukku kepada teman-temanku.
“Kau?”
“Ini!” Charly menunjukkan juga surat ijin mereka.
“Kau sendiri gimana?” tanyaku pada Heru.
Tiba-tiba Heru menunjukkan ekspresi sedih. Sepertinya dia tidak mendapatkan ijin dari orangtuanya untuk mengikuti kegiatan ini.
“Kau nggak diijinkan ya?” tanyaku lagi.
Tentu saja, tanpa keikutsertaan Heru semuanya akan terasa sangat sepi.
“Iya.” Kini giliranku dan Charly menunjukkan ekspresi sedih. “Tapi bohong. Hahaha…” Heru melanjutkan kata-katanya lagi.
“Ah, sialan kau.” Kami menonjok lengan Heru bersama-sama.

Hari H pun tiba…
Kami semua – anak-anak kelas 4 – berangkat ke tempat kemping. Kami semua dinaikkan ke sebuah truk yang besar sekali. Baru kali ini aku naik di punggung truk. Aku jadi teringat pesan ayahku almarhum, kalau
bisa melakukannya sekarang, lakukanlah sekarang kelak bisa saja kamu tidak akan memiliki kesempatan itu lagi. Dan inilah pengalaman pertamaku naik di punggung sebuah truk. Selama perjalanan kami semua bernyanyi-nyanyi riang gembira. Tidak ada rasa susah di wajah kami. Semua berwajah gembira. Termasuk
teman-temanku yang perempuan. Sesampainya di tempat kemping, kami segera mengikuti apa yang diperintahkan kakak pembina.

“Malam ini, kita akan melakukan kegiatan mencari jejak,” kata kakak pembina.
Kami pun dijadikan dalam grup-grup. Begitu mengetahui aku jadi satu kelompok dengan Heru dan Charly.
“Kegiatan ini untuk melatih kepemimpinan kalian. Jadi kalian pilih pemimpin kalian ya. Nanti dua anggotanya matanya ditutup. Ini untuk simbolik bahwa pemimpin harus ada di depan untuk mencari jalan keluar. Makanya kegiatan ini dinamakan mencari jejak.” Kami menyambut gembira kegiatan ini. Rasanya berbau petualangan.

Aku dan Charly pun ditutup matanya. Sementara Heru tidak. Kami berdua mengikatkan diri kepada Heru. Dan mengikuti tiap langkah Heru. Jika dia bilang kiri, maka kami ke kiri. Jika dia bilang kanan, maka kami
ke kanan. Jika dia bilang kami harus melangkah lebih lebar karena ada hambatan di kaki kami, maka kami melakukan apa yang diperintahkan. Tiba-tiba di tengah kegiatan itu berlangsung, aku mendengar suara yang
aneh. Segera saja terdengar jeritan minta tolong, “Argh… Charly… Wawan… Tolongggg…” Itu adalah suara Heru. Dan beberapa saat kemudian, aku mendengar suara Charly juga menjerit. Akhirnya aku membuka penutup mataku. Semuanya dalam keadaan gelap. Dan aku sendirian. Tak ada siapapun. Tak ada
suara apapun. Kecuali suara jangkrik-jangkrik dan hewan malam lainnya. Aku terpisah dari kedua temanku.
Tak begitu jauh dari tempatku, terdengar suara kresak. “Siapa itu? Heru?” tanyaku sambil berjalan maju ke arah suara, “Charly?” Tak ada sahutan. Kini semuanya benar-benar hening. Suara kresak pun
kembali terdengar dari arah yang sama. Aku maju perlahan-lahan. Perasaan takut mulai menguasai ke dalam
hatiku. Dan kutemukan kenyataan lain…”Hah?” tanyaku membatin, tercekat melihatnya. “Siapa itu? Siapa itu? Bukankah itu tubuhnya Heru? Tapi siapa yang sedang berjongkok itu? Sepertinya ia sedang mengunyah sesuatu.” Aku memperhatikan lebih seksama. “Ahhh, dia sedang memakan tubuh Heru?”
Rasa takut yang sangat segera menguasai tubuhku. Aku mencoba untuk segera pergi dari situ. Aku mundur pelan-pelan. Krak. Aku menyadari telah menginjak ranting pohon. Aku terdiam dan menengok ke arah
sesuatu yang kulihat tadi. Sosok yang memakan tubuh Heru itu sudah tidak ada lagi.

Aku memicingkan mataku, mencoba lebih menguasai keadaan sekitar. Siapa tahu monster itu sudah mengetahui aku. Lalu, aku merasakan sesuatu itu sudah ada di tengkukku. Bulu kudukku meremang. Dan sebuah suara mendesis pelan terdengar di telingaku.
“Apa kau mencariku?” tanya desisan suara itu.

Aku berlari sekuat-kuatku berlari, saat kakiku menyandung sesuatu. Membuatku tersuruk-suruk jatuh ke tanah. Aku meringis kesakitan. Namun rasa itu sudah tidak kupedulikan. Tidak untuk saat ini. Tidak saat
monster itu ada di belakangku. Mengejarku. Aku berlari kembali. Dan… Tiba-tiba aku harus menghentikan langkahku saat melihat tubuh Charly di sebuah pohon.

Aku mundur perlahan-lahan. Tidak ada jalan keluar dari sini. “Ahhh… Ahhh… Ahhh… Pergiii!!!” Monster itu kini tampak sangat jelas menjulur-julurkan lidahnya yang panjang. Bibirnya merah dan terus tersenyum kepadaku. Oh, tidak itu bukan merah asli. Itu merah darah. Monster itu mendekat padaku. Kemudian… Kemudian… Semuanya begitu gelap. Tak ada apa-apa lagi. Tak ada suara. Segalanya hening.

***

Ibu heran melihatku pulang dalam keadaan berdarah dan menangis. “Kamu kenapa, Wan?”
“Ibuuu… Huhu… Ibuuu…”
“Kamu kenapa?” Ibu semakin panik dan mengguncang-guncang tubuhku.
Monster bibir merah pun keluar dari punggungku yang telah bolong. Kemudian menerkam ibuku. Aku melihat semuanya sebelum semuanya menjadi gelap. Gelap. Tak ada suara apapun. Semuanya hening.
[End]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , ,