RSS

Arsip Kategori: Horror

Cerpen Horor #6: Seorang Pria yang Membunuh Pacarnya

 

Entahlah apa yang ada di dalam benakku saat ini. Kosong. Semua sudah terjadi. Semua ini salahku. Oh, tidak tidak tidak. Semua salahnya. Andai kau tahu, kau juga pasti akan menyalahkannya. Tentu juga akan melakukan hal yang sama kepadanya, seperti yang telah kulakukan kepadanya barusan.

Aku terduduk sambil melihat tubuh kaku wanita itu. Wanita yang terkapar itu. Wanita yang istriku itu. Wanita yang tubuhnya bersimbah darah itu. Wanita yang telah membuatku

Kilasan-kilasan kejadian beberapa menit sebelum sekarang kembali teringang dalam benakku. Samar-samar. Rasanya beberapa menit tadi menjelma waktu ratusan abad. Sekeping demi sekeping aku mengingatnya, mengkronologiskannya hingga tercipta satu cerita utuh.

“Kau tak bisa lakukan ini padaku Teti,” kataku pada istriku saat ia baru membuka pintu rumah.

Teti melirikku tapi diam saja mendengar celotehku. Kemudian, ia pergi ke dalam kamar kami. Aku membuntutinya dan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan.

“Lelaki tadi siapa?”

Namun, lagi-lagi Teti hanya diam saja sambil meletakkan plastik-plastik belanjaannya di kasur. Ia membuka blues dan jeans yang dikenakannya hingga tersisa bra dan celana dalam warna merah menyala saja.

“LELAKI YANG MENGANTARKANMU ITU SIAPA?!” tanyaku lagi.

Teti tetap meneruskan kegiatannya tanpa mempedulikan teriakanku. Ia membuka lemari mengambil kaos dan celana pendek untuk dikenakannya. Tak dipedulikan seperti itu membuatku naik darah. Aku menghampirinya kemudian mencengkeram kedua lengannya, memaksanya berbalik.

“JIKA KUTANYA MAKA JAWABLAH!” perintahku padanya.

Teti malah tertawa.

“Kenapa kau tertawa, hah?”

“Kenapa aku harus menjawab kau? Apa yang membuat kau merasa istimewa menyuruh-nyuruhku untuk menjawab pertanyaanmu?”

“Perempuan laknat!” Aku ingin menamparnya tapi urung kulakukan.

“Ayo lakukan bang! Lakukanlah jika kau merasa itu yang paling benar untuk dilakukan. Karena selama ini abang kan tidak pernah melakukan hal yang benar?”

Darahku mendidih mendengar makiannya. Aku ke belakang mengambil pisau. Kuhunus dengan cepat ke perut Teti. Tak hanya sekali, tepat di dada kiri kuhujamkan pisau itu beberapa kali.

Tak perlu menunggu waktu lama. Teti roboh. Aku pun senang. Setan girang.

Entahlah apa yang ada di dalam benakku saat ini. Kosong. Semua sudah terjadi. Semua ini salahku. Oh, tidak tidak tidak. Semua salahnya. Andai kau tahu, kau juga pasti akan menyalahkannya. Tentu juga akan melakukan hal yang sama kepadanya, seperti yang telah kulakukan kepadanya barusan. Dan kau sudah tahu bukan apa kesalahan wanita itu?

Sudah cukup aku cerita. Kau mungkin sudah tak ingin mendengarkan cerita dariku lagi bukan? Cerita seorang pengangguran yang membunuh istrinya gara-gara berselingkuh dengan lelaki lain? Dan bagaimana aku mmenguburkannya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 September 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , ,

Cerpen Horor#5: Ketukan

Tok. Tok. Tok.
Sari terbangun dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. Ia menguap terserang rasa kantuk sangat. Suara ketukan pelan dari pintu depan rumah membangunkannya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu depan. Sari melirik jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Ia melihat jam 5.30 pagi.
Ia pun beranjak hendak membukakan pintunya. Ketika hendak membukakan pintu, bahunya dipegang oleh Dodi. Sari menoleh.
“Sebaiknya jangan kamu buka,” ucap Dodi.
“Kenapa?” tanya Sari.
“Kamu lihat, jam berapa ini?”
Sari melihat jam dinding menunjukkan pukul 2. “Astaga!” sebut Sari.
Ternyata dirinya salah melihat jam tadi. Namun, Sari masih heran siapa yang mengetuk pintu rumahnya.
“Terus siapa tamu kita ini?” Sari bertanya lagi.
“Percayalah, dia bukan orang yang ingin kamu temui.”

Sari masih bergidik jika mengingat peristiwa semalam. Andai saja ia membuka pintu, apa yang akan terjadi pada dirinya? Beragam pertanyaan dan jawaban timbul di kepalanya. Dan kesemuanya jelek. Sari tidak suka
akan hal itu. Padahal kejadian semalam bukanlah kejadian pertama kali. Sudah beberapa kali kejadian serupa terjadi, sejak ia pindah ke rumah kontrakan ini beberapa bulan silam. Entah, kenapa dirinya selalu saja berusaha untuk membuka pintu.
Beruntung Mas Dodi selalu ada dan mencegahnya. Semisal Mas Dodi tak ada? Sari tidak mau melanjutkan pikirannya sendiri. Namun, apa yang dikhawatirkan Sari kemudian menjadi kenyataan. Sebagai seorang satpam, tiba juga giliran bagi Mas Dodi mendapat shift malam.
“Mas kapan pulangnya?” tanya Sari cemas.
“Jam 5-an paling,” sahut Dodi seraya memakai sepatu bootsnya. Sari terdiam. Raut wajahnya menampakkan kegelisahan. “Kenapa?” tanya Dodi.
“Hmm…”
“Nanti kalau ada ketukan lagi kamu jangan bukain pintunya yah,” jawab
Dodi seperti tahu apa yang dipikirkan istrinya.
Jujur saja, ditinggal sendirian kerja oleh suami malam-malam bukanlah sebuah pilihan. Dan hal ini sebenarnya membuat hati Sari kecut juga. Apalagi setelah kejadian itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Selain pasrah dan sabar menjalani hal ini.
“Ingat, jangan dibuka pintunya. Selama kamu nggak mbuka pintu, dia nggak akan bisa melakukan apapun selain mengetuknya selama tiga kali. Itu saja.”
Sari teringat pesan suaminya. Hanya saja, butuh nyali yang lebih untuk melewati suatu malam sendirian di rumah kontrakan baru. Dan nyali lebih itu dibutuhkan malam ini!

***

Tok. Tok. Tok.
Sari terbangun dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. Ia menguap terserang rasa kantuk sangat. Suara ketukan pelan dari pintu depan rumah membangunkannya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu depan. Sari melirik jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Ia melihat jam 5.30 pagi. Sari pun segera tersadar bahwa yang mengetuk pintu depan rumah adalah suaminya. Seketika itu juga ia beranjak dari tidurnya untuk membukakan pintu depan.
Tok. Tok. Tok.
“Sabar, Yah,” ucap Sari ketika mendengar ketukan itu lagi. Sari memutar kunci pintu ke arah kanan. Kemudian menggerakkan tuas pintu ke arah bawah. Begitu pintu terbuka, Sari terkejut bukan alang-kepalang. Matanya melotot! Yang ditemuinya bukanlah Dodi suaminya, melainkan sesosok makhluk tinggi besar, berbulu, bergigi besar dan matanya merah menatap nyalang ke arahnya.
Sari mundur beberapa langkah ke dalam rumah. Dengan cepat makhluk itu menangkap Sari. Kemudian membopongnya di atas pundak kanannya. Sari meronta-ronta dan memukul-mukuli punggung makhluk itu. Hanya saja, pukulan itu seolah tak berarti apa-apa baginya. Makhluk itu tetap berjalan. Sari berteriak-teriak meminta tolong. Suaranya hilang ditelan kegelapan malam bersama langkah makhluk itu.

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 2
.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , ,

Cerpen Horor#4: Hantu Bibir Merah

 

Aku berlari sekuat-kuatku berlari, saat kakiku menyandung sesuatu. Membuatku tersuruk-suruk jatuh ke tanah. Aku meringis kesakitan. Namun rasa itu sudah tidak kupedulikan. Tidak untuk saat ini. Tidak saat monster itu ada di belakangku. Mengejarku. Aku berlari kembali. Dan… Tiba-tiba aku harus menghentikan langkahku saat ia muncul di hadapanku.
Aku mundur perlahan-lahan. Tidak ada jalan keluar dari sini.
“Ahhh… Ahhh… Ahhh… Pergi!!!”

“Bu, aku minta tandatangan,” kataku sambil menyodorkan surat ijin untuk mengikuti kegiatan kemping pramuka di sekolahku.
“Apa ini?” tanya ibuku melihat surat yang kusodorkan.
“Surat ijin, bu,” sahutku, “Nanti habis ujian sekolah, anak-anak kelas 4 mau kemping.”
Ibuku mengambil surat ijin tersebut,  membacanya dengan seksama, lalu manggut-manggut dan menggumam, “hmm.” Sesaat kemudian, ibuku membubuhkan tandatangannya. Mendapatkan surat ijinku telah dibubuhi tandatangan, aku berjingkat kegirangan. Sudah lama aku menginginkan pergi bersama teman-teman untuk kemping. Karena aku suka petualangan.

Dengan mengantongi ijin dari ibuku, aku kemudian berangkat ke sekolah dengan keceriaan yang tidak biasanya. Di sekolah aku membahas hal ini dengan teman-teman sekolahku.
“Kau sudah mendapat ijin dari ibumu?” tanya Heru — sahabatku yang memiliki tubuh bongsor.
“Sudah dong! Nih!” Tunjukku kepada teman-temanku.
“Kau?”
“Ini!” Charly menunjukkan juga surat ijin mereka.
“Kau sendiri gimana?” tanyaku pada Heru.
Tiba-tiba Heru menunjukkan ekspresi sedih. Sepertinya dia tidak mendapatkan ijin dari orangtuanya untuk mengikuti kegiatan ini.
“Kau nggak diijinkan ya?” tanyaku lagi.
Tentu saja, tanpa keikutsertaan Heru semuanya akan terasa sangat sepi.
“Iya.” Kini giliranku dan Charly menunjukkan ekspresi sedih. “Tapi bohong. Hahaha…” Heru melanjutkan kata-katanya lagi.
“Ah, sialan kau.” Kami menonjok lengan Heru bersama-sama.

Hari H pun tiba…
Kami semua – anak-anak kelas 4 – berangkat ke tempat kemping. Kami semua dinaikkan ke sebuah truk yang besar sekali. Baru kali ini aku naik di punggung truk. Aku jadi teringat pesan ayahku almarhum, kalau
bisa melakukannya sekarang, lakukanlah sekarang kelak bisa saja kamu tidak akan memiliki kesempatan itu lagi. Dan inilah pengalaman pertamaku naik di punggung sebuah truk. Selama perjalanan kami semua bernyanyi-nyanyi riang gembira. Tidak ada rasa susah di wajah kami. Semua berwajah gembira. Termasuk
teman-temanku yang perempuan. Sesampainya di tempat kemping, kami segera mengikuti apa yang diperintahkan kakak pembina.

“Malam ini, kita akan melakukan kegiatan mencari jejak,” kata kakak pembina.
Kami pun dijadikan dalam grup-grup. Begitu mengetahui aku jadi satu kelompok dengan Heru dan Charly.
“Kegiatan ini untuk melatih kepemimpinan kalian. Jadi kalian pilih pemimpin kalian ya. Nanti dua anggotanya matanya ditutup. Ini untuk simbolik bahwa pemimpin harus ada di depan untuk mencari jalan keluar. Makanya kegiatan ini dinamakan mencari jejak.” Kami menyambut gembira kegiatan ini. Rasanya berbau petualangan.

Aku dan Charly pun ditutup matanya. Sementara Heru tidak. Kami berdua mengikatkan diri kepada Heru. Dan mengikuti tiap langkah Heru. Jika dia bilang kiri, maka kami ke kiri. Jika dia bilang kanan, maka kami
ke kanan. Jika dia bilang kami harus melangkah lebih lebar karena ada hambatan di kaki kami, maka kami melakukan apa yang diperintahkan. Tiba-tiba di tengah kegiatan itu berlangsung, aku mendengar suara yang
aneh. Segera saja terdengar jeritan minta tolong, “Argh… Charly… Wawan… Tolongggg…” Itu adalah suara Heru. Dan beberapa saat kemudian, aku mendengar suara Charly juga menjerit. Akhirnya aku membuka penutup mataku. Semuanya dalam keadaan gelap. Dan aku sendirian. Tak ada siapapun. Tak ada
suara apapun. Kecuali suara jangkrik-jangkrik dan hewan malam lainnya. Aku terpisah dari kedua temanku.
Tak begitu jauh dari tempatku, terdengar suara kresak. “Siapa itu? Heru?” tanyaku sambil berjalan maju ke arah suara, “Charly?” Tak ada sahutan. Kini semuanya benar-benar hening. Suara kresak pun
kembali terdengar dari arah yang sama. Aku maju perlahan-lahan. Perasaan takut mulai menguasai ke dalam
hatiku. Dan kutemukan kenyataan lain…”Hah?” tanyaku membatin, tercekat melihatnya. “Siapa itu? Siapa itu? Bukankah itu tubuhnya Heru? Tapi siapa yang sedang berjongkok itu? Sepertinya ia sedang mengunyah sesuatu.” Aku memperhatikan lebih seksama. “Ahhh, dia sedang memakan tubuh Heru?”
Rasa takut yang sangat segera menguasai tubuhku. Aku mencoba untuk segera pergi dari situ. Aku mundur pelan-pelan. Krak. Aku menyadari telah menginjak ranting pohon. Aku terdiam dan menengok ke arah
sesuatu yang kulihat tadi. Sosok yang memakan tubuh Heru itu sudah tidak ada lagi.

Aku memicingkan mataku, mencoba lebih menguasai keadaan sekitar. Siapa tahu monster itu sudah mengetahui aku. Lalu, aku merasakan sesuatu itu sudah ada di tengkukku. Bulu kudukku meremang. Dan sebuah suara mendesis pelan terdengar di telingaku.
“Apa kau mencariku?” tanya desisan suara itu.

Aku berlari sekuat-kuatku berlari, saat kakiku menyandung sesuatu. Membuatku tersuruk-suruk jatuh ke tanah. Aku meringis kesakitan. Namun rasa itu sudah tidak kupedulikan. Tidak untuk saat ini. Tidak saat
monster itu ada di belakangku. Mengejarku. Aku berlari kembali. Dan… Tiba-tiba aku harus menghentikan langkahku saat melihat tubuh Charly di sebuah pohon.

Aku mundur perlahan-lahan. Tidak ada jalan keluar dari sini. “Ahhh… Ahhh… Ahhh… Pergiii!!!” Monster itu kini tampak sangat jelas menjulur-julurkan lidahnya yang panjang. Bibirnya merah dan terus tersenyum kepadaku. Oh, tidak itu bukan merah asli. Itu merah darah. Monster itu mendekat padaku. Kemudian… Kemudian… Semuanya begitu gelap. Tak ada apa-apa lagi. Tak ada suara. Segalanya hening.

***

Ibu heran melihatku pulang dalam keadaan berdarah dan menangis. “Kamu kenapa, Wan?”
“Ibuuu… Huhu… Ibuuu…”
“Kamu kenapa?” Ibu semakin panik dan mengguncang-guncang tubuhku.
Monster bibir merah pun keluar dari punggungku yang telah bolong. Kemudian menerkam ibuku. Aku melihat semuanya sebelum semuanya menjadi gelap. Gelap. Tak ada suara apapun. Semuanya hening.
[End]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , ,

Cerpen Horor#3: Hantu Sumur

 

Mulyono dan Mangun berjabat tangan. Akhirnya, proses jual-beli rumah tua ini selesai. Setelah Mulyono membubuhkan tandatangannya di selembar kertas yang disodorkan oleh Mangun. Keduanya tersenyum. Dan setelah membereskan beberapa berkas, Mangun sebagai penjual pamit. Karena tanah dan rumah ini bukan miliknya lagi.
“Terima kasih mas Mulyono. Senang bekerjasama dengan sampeyan,” kata terakhir yang diucapkan Mangun sebelum masuk mobil dan akhirnya berlalu.
Mulyono masuk ke dalam rumah tua yang telah menjadi miliknya itu lagi sembari menekan tuts keyboard ponselnya. Nomor pak Narto yang dipanggil.
“Halo, Pak Narto. Bisa ke sini kapan? Setengah jam lagi? Oke. Oke. Saya tunggu.”
Laki-laki single berusia 35 tahun itu mematikan ponselnya. Kemudian, berkeliling melihat-lihat keadaan sekalian menunggu Pak Narto – pemborongnya.

Matahari tengah bersinar dengan teriknya ketika Pak Narto datang.
“Assalamualaikum…” panggil Pak Narto dari luar dan mengetuk pintu.
“Walaikumsalam…” sahut Mulyono, “Oh, pak Narto. Silakan, Pak.”
Keduanya pun duduk saling berhadapan. Mulyono menyatakan maksudnya memanggil Pak Narto ke rumah barunya. “Begini Pak. Seperti yang sudah kita obrolkan beberapa hari lalu, sepertinya saya mau Pak Narto menangani renovasi rumah saya ini. Karena saya tahu kalau pak Narto memang sudah ahli di bidangnya.”
Pak Narto yang berusia 50 tahun ini tersenyum mendengar pujian Mulyono.
“Yah, kalau bisa, saya mau tahu titik-titik mana saja yang hendak direnovasi. Soalnya, sekalian mau saya kalkulasikan biayanya.”
“Bisa. Bisa.”
Mulyono pun segera berkeliling dengan Pak Narto untuk menunjukkan beberapa titik rumah yang hendak direnovasinya.
“Bagian dapur ini nanti dirombak total ya Pak Narto. Terus…” Mulyono terus berjalan, “Saya rasa kusen-kusen jendela ini juga perlu diganti. Oiya, sumur tua ini sepertinya harus ditutup. Saya maunya buat sumur bor aja. Lebih meringkas tempat soalnya.”
Pak mengernyit. Ada sesuatu yang dia rasakan. Pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang pemborong telah memberinya beberapa pelajaran berharga yang berarti. Karena, pembangunan biasanya menuntut hal-hal di luar nalar. Tapi, tidak diacuhkannya perasaan itu. Biar bagaimana pun dia mengikuti kemauan klien saja.
Dan ternyata…
Ketika keduanya hendak berjalan menuju kamar Mulyono. Rangka plafon yang berusia ratusan tahun roboh. Sontak keduanya terkejut dan menengok. Pak Narto mengelus dadanya. Untung tidak kena, demikian batinnya. Sementara Mulyono mengernyit. Laki-laki bujang itu adalah tipe orang yang berpikiran positif thinking, dan tidak percaya hal-hal mistis itu, tetap tenang. Dia meyangka rangka plafon yang jatuh itu adalah hasil pelapukan karena termakan usia.
“Sekalian yang itu dibetulkan nanti Pak,” tukas Mulyono menyambut jatuhnya rangka plafonnya.
Pak Narto manggut-manggut.
“Terus satu lagi. Sepertinya saya ingin mempercantik tiap-tiap ruangan ini dengan menambahkan eternit di tiap-tiap ruangan supaya tidak terkesan bolong dan langsung ke atap kayak begini ya Pak.”
“Oke.”
Pak Narto pun kemudian pamit undur diri untuk mengurus segala macam sesuatunya. Termasuk hitung-hitungan soal berapa biaya yang hendak.
“Saya kembali tiga belas hari lagi.”
“Oiya, saya juga hendak tidur di hari ke tiga belas.”

Mulyono pun mulai mencicil beberapa barangnya untuk dipindah ke rumah barunya sampai hari ke-13. Karena barang-barangnya lumayan banyak.  Nah, baru keanehan itu terjadi. Selepas Isya, Mulyono pun mandi  di kamar mandi tuanya. Sebuah suara terdengar di balik pintu kamar mandinya. Suara tangan menggaruk pintu. Mulyono yang mendengarnya segera mematikan kran air untuk menemui suara itu dengan seksama.
Suara itu terdengar kembali, namun jauh lebih pelan tidak seperti sebelumnya – nyaris tidak kelihatan.
Mulyono kemudian membuka pintu kamar mandinya. Tak ada apapun kecuali hujan mulai turun rintik-rintik dan udara agak begitu dingin.
***
Sebuah suara membangunkan Mulyono. Rupanya angin dari luar menggoyang-goyangkan dedaunan sehingga mengejutkan Mulyono yang tampaknya belum sepenuhnya pulih dari ketidaksadarannya tidur.
“Mas Mul…” suara itu terdengar kembali lamat, dan kembali membuat meremang bulu kuduk Mulyono.
Berhelai-helai rambut menempel di bahu Mulyono, membuatnya berpikir bahwa
Dia melihat sebuah wajah yang tertutupi rambut yang lebat dan panjang. Sontak Mulyono kaget dan menjauh dari ‘itu’. Wajah itu bergerak, dan rambutnya tersibak seperti tertiup angin, menuju arah Mulyono yang semakin ketakutan.

“Kau telah menggangguku, kini saatnya menghukummu.”
Setan wanita itu melesat masuk merasuki tubuh Mulyono. Lalu, diambilnya tambang. Kemudian disangkutkannya ke rangka plafon yang tidak ada eternitnya. Dengan lincah Mulyono yang dirasuki itu segera membuat simpul tambang itu yang cukup dimasuki kepalanya sendiri.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Mulyono yang masih tersadar namun tak bisa mengendalikan anggota tubuhnya itu.
Segera setelah Mulyono mengambil bangku dan naik, ia lalu mengikatkan simpul yang telah dibuatnya sendiri itu ke kepalanya.
“Jangan… jangan… jangan…” kursi terpelanting ke lantai. Dan Mulyono megap-megap kehabisan napas karena tercekik. Sementara, kakinya meronta-ronta mencoba meraih sesuatu – tapi tak ada satu pun.
Setan wanita itu menampakkan diri di hadapan Mulyono dan tersenyum.
“Kh… kh… kh…” Mulyono hendak bicara, namun tak mengeluarkan sepatah kata pun.
***
Pak Narto yang datang sekitar pukul 8.30 untuk melanjutkan diskusi soal renovasi rumah dengan Mulyono. Namun ia malah menemukan kenyataan lain bahwa ia menemukan Mulyono telah tergantung di kamarnya dengan posisi melotot ke arahnya.
Setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri, ia pun menelpon pihak berwajib. Jenazah Mulyono pun diangkut ke rs terdekat untuk diautopsi.
Ketika hendak pergi Pak Narto menoleh sebentar untuk melihat rumah tua itu.
RUmah tua itu tetap kosong tak berpenghuni seperti semula. Seorang wanita berbaju putih terlihat tersenyum di balik jendelanya. Pak Narto mengucek matanya melihat kejadian itu untuk memastikan dia tidak salah lihat.
Ketika melihat kembali si wanita telah menghilang. Bulu kuduk pak Narto meremang. Dia pun segera pergi tanpa menoleh-noleh lagi. [End]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , ,

Cerpen Horor #2: Kacamata Ibu

Apa yang lebih menyedihkan daripada kehilangan seorang ibu? Terlebih-lebih secara mendadak dan kau tidak ada di sampingnya saat itu. Apa yang kau lakukan? Tidak ada yang bisa kau lakukan, selain perasaan menyesal yang mendalam.
Seperti saat ini. Aku tidak bisa menahan tangisku ketika para penggali kubur mulai menimbun liang kubur ibu dengan tanah. Ayah berdiri di sampingku dan memegang pundakku seraya berkata, “Ikhlaskan… Ikhlaskan… supaya jalan ibumu bisa lancar menuju kepada-Nya.”

Aku menyeka lelehan air mata yang masih mengalir dari kedua mataku, walaupun aku berusaha menegarkan diri. Isak tangisku masih terdengar dan membuat bahuku tersedak-sedak.
Aku menaburkan bunga dan menuangkan air ke tanah yang menggunduk itu hingga selesai. Beberapa orang pelayat sudah pergi meninggalkan makam. Sementara mbah kaum – orang yang biasa dituakan untuk memimpin acara adat atau keagamaan – mulai membacakan doa. Setelah selesai, seluruh pelayat tersisa meninggalkan makam. Mereka menyalamiku dan ayah. Dan menasihatiku supaya bersabar.
Aku pun harus pergi, move on untuk melanjutkan hidupku kembali. Dalam tujuh langkahku meninggalkan makam ibu, aku menengok ke makam ibu, mencoba membayangkan apa yang terjadi pada ibu sekarang. Apakah ia sedang ditanyai Malaikat? Apakah ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat? Aku kembali merasa sedih. Tapi aku harus kuat melangkah. Ini sudah suratan takdir.
“Selamat jalan ibu…” tuturku seraya membalikkan badanku. Pergi.

Hari-hari di rumah kini menjadi begitu berbeda. Tak ada lagi yang sama. Tak ada canda tawa. Tak ada curhat bersama ibu. Tak ada ceria ayah. Rumah terasa begitu sepi. Karena ayahku kembali menyibukkan diri dalam pekerjaan. Mungkin akibat kesedihannya, ia melarutkan diri untuk melupakan ibu.
Tapi apa yang kuduga semuanya salah! Ia tak hanya melupakan ibu, tapi melupakanku juga.

Ayah pulang, mengetuk pintu dengan sangat keras. “FIKAAA… buka pintu !!!”
Dengan tergopoh-gopoh, aku membukakan pintu untuk ayah. Kupikir ia hanya seorang diri. Nyatanya, ia membawa seorang wanita. Keduanya dalam kondisi mabuk. Aku heran bagaimana keduanya bisa mengendarai mobil dalam kondisi mabuk dan pulang dengan selamat. Bukankah sangat berbahaya?
Wanita yang dibawa ayah – walaupun dalam kondisi mabuk – memandangiku dengan tajam. Aku bergidik, kemudian menundukkan kepalaku. Kemudian melangkahkan kakiku pergi ke kamarku.
Di sana, aku menangis tersedu-sedu, bertanya pada diri sendiri mengapa ini semua bisa terjadi? Sementara kudengar suara dari kedua orang tersebut tertawa-tawa, bahkan suara-suara nakal pun masih terdengar.
Aku pun melihat kacamata ibu. Hanya itu benda yang masih ada di rumah ini. Semuanya telah dibakar oleh ayah. Entah demi apa aku kemudian memegang kacamata ibu. Membolak-baliknya. Lalu mengenakannya.
Tiba-tiba, aku merasakan keadaan sekitarku bergerak. Aku bingung ada apa ini. Dan aku mendapati diriku berada di pagi hari.
Dari sudut pandangku, yang kupahami aku juga melihat sebagai ibu, aku melihat ayah berjalan ke arah ibu. Terjadi obrolan singkat di antara mereka. Aku tak tahu apa yang mereka obrolkan. Kulihat ayah marah-marah dan membanting sesuatu – sepertinya gelas. Ia menghampiri ibu. Sebuah tentakel menjuntai-juntai keluar dari arah belakang ayah dan mengangkat ibu ke udara beberapa senti. Dan kacamata ibu terjatuh ke lantai.
Aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Ayah mengambil pemukul baseball dan memukuli ibu yang terangkat beberapa senti oleh tentakel-tentakel dengan beringas. Hingga ia mengembuskan napas terakhirnya. Aku menutup mulutku dengan tangan kanan. Aku terkejut dengan apa yang kulihat. Tak terasa air mataku meleleh. Kulihat wanita yang pulang bersama ayah kemudian muncul, dan segera mencium ayah dengan laknat.
‘Oh, tidak! Sandiwara apakah ini? Benarkah semua ini?’ tanyaku sendiri.
Ternyata ayah berbohong padaku selama ini. Dia menyebutkan kalau kematian ibu akibat terjatuh di kamar mandi.
Yang benar adalah ibu meninggal karena dibunuh ayah!
Aku melepaskan kacamata ibu. Aku menangis dan ketakutan. Lantas meringkuk di sudut tempat tidurku.
Ketakutan itu bertambah kala ayah masuk ke dalam kamarku diiringi wanita itu. Mata ayah memerah. Sungguh menyeramkan. Baru kali ini kulihat mata ayah memerah. Ayah kemudian tersenyum janggal. Tangan kanannya yang memegang pemukul baseball. Ia berjalan ke arahku. Dengan cepat, ia mengayunkan pemukul baseball itu ke arah kepalaku. Tanpa sanggup menghindar, kepalaku menerima sebuah hantaman keras. Membuatku jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Hanya sesaat karena aku segera tersadar kembali.
Aku mencoba bangkit. Darah menetes-netes dari kepalaku ke lantai. Aku memegangnya. Dan menjadi shock! Kulihat dari ekor mataku, ayah bergerak maju dan mengayunkan pemukul baseballnya kembali. Namun, kali ini aku lebih cepat. Aku berhasil menghindarnya.
Kulihat wanita jalang itu. Tangannya berubah menjadi tentakel dan terjulur menangkapku. Oh, ini seperti yang kulihat dari kacamata ibu. Tentakel-tentakel wanita itu kini sudah mengangkatku beberapa senti dari lantai.
Aku meronta-ronta sekuat tenaga. Sayangnya, kekuatanku tidak cukup kuat. Karena aku hanyalah seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun. Apalah arti tenagaku dibanding kekuatan yang mereka miliki?
Ayunan pemukul baseball yang dilakukan ayahku pun dengan cepat menghajar kepalaku, andai wanita tidak menghentikannya. Dengan bahasa yang bisa kumengerti, wanita itu berkata kepada ayahku.
“Jangan dibunuh,” katanya, “Kita jadikan dia pion kita.” Ayah menurut. Diam. Mematung.
Tepat di saat itu, seekor binatang berbentuk seperti lintah keluar dari mulut wanita itu. Kemudian, binatang itu masuk ke dalam hidungku.
Aku pun terjatuh dalam jurang gelap tanpa dasar. [END
]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , ,

Cerpen Horor #1: Lisa?

“Lho kok lo balik Lis?” tanya Ninoy saat melihat Lisa kembali ke kantor, “Ada yang ketinggalan?”
“Kayaknya, aku pengen ikutan ngelembur juga deh, Nin,” sahut Lisa, “Itung-itung sekalian nemenin kamu.”
Ninoy tersenyum. Memang akan terasa sangat sepi sekali kalau ngelembur kerjaan tanpa ada seorang rekan kerja satu pun. Dan kehadiran Lisa membuat Ninoy senang. Lisa kemudian duduk di mejanya yang terletak bersebelahan dengan meja Ninoy.

“Eh, gue mau ke pantry nih bikin kopi. Lo mau? Kalau mau nanti sekalian gue bikinin,” tawar Lisa kepada Ninoy.
Ninoy mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Lisa segera berjalan ke pantry.
“Eh, Lis…” Lisa berhenti kemudian menengok ke arah Ninoy. “Gulanya jangan banyak-banyak ya. Hehe… Thanks ya before.”
Lisa tersenyum, kemudian melangkah lagi menuju pantry.

Ninoy melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah hampir 15 menit, Lisa belum juga kembali. ‘Kok lama sekali?’ begitu batinnya berkata. Bukan apa-apa, ia sangat membutuhkan asupan kafein di dalam kopi dalam jumlah tertentu. Sudah tak terhitung lagi berapa banyaknya dia menguap akibat kantuk.
Akhirnya, Ninoy pun memutuskan untuk menyusul Lisa ke pantry – sekalian ngecek sekiranya ada apa-apa dengan Lisa. Tiba-tiba, suara dering Blackberry Ninoy memecah kesunyian kantor. Membuat Ninoy terkejut. ‘Ah, mengapa mengagetkan saja sih?’ Sama sekali berbunyi pada waktu yang tidak tepat.
Ninoy mengambil Blackberry dari kantong celananya kemudian mengangkatnya.
“Halo, Mer?”
“Woiii, Nin, kamu nggak kemari? Udah ditungguin nih. Anak-anak dah pada ngumpul!”
“Sori gue absen dulu nih. Kerjaan gue belum kelar. Masih banyak. Padahal dikumpul besok.”
“Ah, gimana kamu ini? Tadi bilangnya bisa. Udah deh cepetan ke sini. Udah ditungguin anak-anak nih. Tanpa banyak alasan!”
“Nggak bisa. Untuk kali ini aku absen dulu deh,” sahut Ninoy memelas.
Akhirnya Merry mengalah. “Yaudah deh. Lo ngelembur di kantor sama siapa?” tanya Merry lagi.
“Sama Lisa.”
“Lisa?!”
“Iyaaa…”
“Lho Lisa ada di sini kok…”
Ninoy mengerutkan kening. “Seriusan? Boong kamu. Lisa sama aku di sini, Mer. Dia lagi bikinin aku kopi di pantry. Nih, aku lagi nyusul ke sana,” Ninoy mencoba meyakinkan Merry.
“Beneran, Nin. Ngapai juga aku boong sama kamu,” jawab Merry, “Kupanggilin Lisa ya. Biar kamu ngomong sama dia langsung.”
“Halo Nin?” tanya Lisa di seberang sana.
Deg. Jantung Ninoy berdegub kencang. Suara itu beneran suara Lisa. “Kamu beneran Lisa?”
“Iya, Nin, kenapa emangnya?”
“Kalau kamu Lisa, terus siapa Lisa yang ke pantry bikinin aku kopi?” tanya Ninoy mulai ketakutan.
Ninoy menengok ke pantry. Tak ada siapa-siapa di sana. Ia pun segera balik badan dan kabur dari tempat itu sekarang juga. ‘Sial! Kenapa aku nggak menyadarinya?”
Ninoy baru beberapa langkah meninggalkan pantry, ketika namanya dipanggil.
“Nin, kamu mau ke mana?” tanya suara itu.
“Gue udah selesai, gue mau pulang!” jawab Ninoy tanpa mempedulikan suara itu dan tetap melangkah. Keringat dinginnya sudah mengucur.
Sebuah tangan memegang pundak Ninoy. Ninoy memejamkan matanya. Suara itu bertanya lagi sambil membalikkan tubuh Ninoy. “Kamu udah selesai? Apa kamu udah tahu kalau aku bukan Lisa?” kata suara itu mendekatkan wajahnya pada wajah Ninoy.
Tak ada yang dilakukan Ninoy. Tubuhnya mendadak kaku tidak bisa digerakkan. Lantas, semua pun menjadi gelap bagi Ninoy
!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , ,

Heboh Cerita Horor Nenek Gayung

Menurut cerita dan isu yang beredar tentang nenek gayung ini, disebutkan bahwa si nenek berkeliaran di sekitar wilayah Jakarta Timur. Biasanya si nenek bergayung ini akan mengajak ngobrol korbannya. Jika korban menanggapi dan melayani ajakan obrolan dari sang nini-nini tersebut, maka biasanya tak lama kemudian akan mati… Wew.. serem juga ya.

Isu lain menyebutkan bahwa jika korban bercakap-cakap dengan si nenek, maka malamnya si nenek gayung akan datang, menggelar tikar dan memandikan korban dengan gayungnya, dan biasanya, esoknya si korban akan meninggal… wiwwwwwww.

Berikut ini adalah beberapa versi cerita lain dari Nenek Gayung yang dikumpulkan dari berbagai Forum :

(Cerita Versi Sania)

Waktu itu ada 2 pria berkendaraan sepeda motor, mereka melihat nenek-nenek berpakaian hitam dan membawa gayung serta tikar. Lalu si 2 orang itu mendatangi nenek itu dan nanya “Nenek mau kemana?”. Nenek pun menjawab “Nenek mau mati, nenek minta dimandiin nak” kata nenek itu.

Setelah lama ngobrol, 2 orang itu pun mengantar si nenek naik motor. Setelah beberapa lama tiba2 motor itu jatuh! Warga pun mengerubungi motor itu, dan ternyata 1 orang meninggal dan 1 orang lagi selamat, cuma sosok sang nenek itu tak terlihat batang hidungnya.

(Versi Rumor Gosip)

Di Jakarta tengah di bangun Busway, dan si nenek itu ceritanya sedang mencari tumbal buat pembangunan itu, karena dipercaya nenek tersebut adalah sosok misterius yang memiliki ilmu hitam. Nenek itu beredar di sekitar Jakarta Timur. Jika kita ngobrol dengan nenek itu, pada malam hari nya si nenek akan datang mengunjungi anda, kemudian akan dimandiin sama si nenek dan besoknya meninggal.

(versi 3)

Mungkin dari percakapan gw sama temen gw paling pesek, Risma kalian udah bisa nebak apa maksud dari nenek-nenek gayung ini. Yap. Jadi ada suatu kehebohan yang terjadi di sekitar Bekasi Barat ampe Jakarta Timur yang udah jadi trending topic banget di Facebook, Twitter, bahkan inbox gw penuh sama SMS berisi peringatan akan kehadiran nenek-nenek gayung.

Jadi, konon katanya. Warga-warga Penggilingan (JakTim) itu udah pada resah karena kehadiran sesosok hantu, jin, setan, dan sebangsanya yang udah mengancam keselamatan mereka. Konon katanya (lagi) itu nenek-nenek gayung, nggak cuman bawa gayung. Tapi juga bawa payung dan tiker. Dan kalau ada manusia yang nyapa, nanya-nanya mau kemana, atau Cuma sekedar melihat nenek-nenek gayung itu, dua atau tiga hari kemudian manusia yang nyapa, nanya-nanya, dan sekedar ngeliat tu nenek-nenek gayung bakalan mati tragis.

Asalnya nenek gayung ini masih banyak yang nanya-nanya. Jadi belum ada yang tau pasti. Atau kalo kalian ada yang tau, cerita dong dikomennya.

Oh iya. Jadi ntu nenek-nenek nggak Cuma menetap di suatu tempat. Tapi dia ngayap gitu kemana-mana. Yang terakhir gw denger sih lagi ada di daerah Cakung gituh. (alamakk… dekat sekolah itu.. -_-)
NYARI TUMBAL?

Ummm… nggak tau juga sih. Kebenaran akan isu ini juga belum sangat pasti. Banyak yang bilang cerita ini hanya sekedar nyari sensasi. Isu ini Cuma hoax yang bakalan ngalahin sensasi jambul khatulistiwa terowongan casablanca dan gorong-gorong sudirmannya Syahrini. Ada juga yang bilang kalo itu nenek-nenek gayung beneran ada. Dengan bukti banyak yang tewas setelah melihat atau menyapa nenek-nenek gayung itu.

Sumpah ye. Pertama kali gue denger nih cerita gue sama sekali nggak naggepin dengan serius banget. Eh ternyata, di Facebook tuh udah sangat nge-trend banget dengan semua status beraromakan “NENEK-NENEK GAYUNG”. Di twitter apa lagi. Sampe tu nenek-nenek juga punya account yang diberi nama user @NenekGayuung. Followersnya lumayan. Tunggu aja sampe bisa ngalahin followersnya @pocongkkkkkkkkkkkkkkkkgg (ga mungkin la yaaa).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , , , ,

cerita misteri

cerita cerita misteri ini saya dapat dari berbagai sumber, serta cerita cerita dari teman atau keluarga saya sendiri. Banyak sekali hal hal gaib yang sering terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan manusia. Bahkan banyak nama – nama dari se*an itu, seperti Genderuwo, Kunti, Wewe, Tuyul, Pocong, dan sbagainya, dan sekarang masih banyak bermunculan mitos – mitos tentang kekuatan untuk dapat melihat dan berinteraksi dengan makhluk itu. (saya gak bisa ^^ ) .  Dan anehnya di berbagai belahan dunia nama nama makhluk yang kita sebut sebagai se*an ini mempunyai nama yang berbeda dengan yang kita temui di Indonesia ini, misal vampir, dracula, mumi, zombie dan sbgainya. So, itu membuktikan bahwa se*an itu tidak ada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Agustus 2012 in Cerita, Horror

 

Tag: , , , ,